Pages

Thursday, January 24, 2013

Daftar Pustaka

Pengertian

Daftar Pustaka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah daftar yang mencantumkan judul buku, nama pengarang, penerbit dsb yang ditempatkan pada bagian akhir suatu karangan atau buku dan disusun berdasarkan abjad. Daftar sendiri didefinisikan sebagai catatan sejumlah nama atau hal yang disusun berderet dari atas ke bawah.

Cara Membuat Daftar Pustaka
1. Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari internet :
  • pertama; tulis nama,
  • kedua; tulis (tahun buku atau tulisan dibuat dalam tanda kurung) setelah itu beri (tanda titik), ketiga; tulis judul buku/tulisannya lalu beri (tanda titik) lagi,
  • keempat; tulis alamat websitenya gunakan kata (from) untuk awal judul web dll setelah itu beri tanda koma,
  • kelima; tulis tanggal pengambilan data tersebut ok.

2. Penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari buku :
  • pertama; penulisan nama untuk awal menggunakan huruf besar terlebih dahulu setelah nama belakang ditulis beri (tanda koma), dimulai dari nama belakang lalu beri (tanda koma) dan dilanjutkan dengan nama depan,
  • kedua; tahun pembuatan atau penerbitan buku,
  • ketiga; judul bukunya ingat ditulis dengan mengunakan huruf miring setelah judul gunakan (tanda titik),
  • keempat; tempat diterbitkannya setelah tempat penerbitan gunakan (tanda titik dua), dan
  • kelima; penerbit buku tersebut diakhiri dengan (tanda titik).

3.  Penulisan daftar pustaka yang lebih dari satu/dua orang penulis dalam buku yang sama :
  • Pertama;  tulis nama belakang dari penulis yang pertama setelah nama belakang beri (tanda koma) lalu tulis nama depan jika nama depan berupa singkatan tulis saja singkatan itu setelah nama pertama selesai beri (tanda titik) lalu beri (tanda koma) untuk nama kedua / ketiga ditulis sama seperti nama sali alis tidak ada perubahan, yang berubah penulisannya hanya orang pertama sedangkan orang kedua dan ketiga tetap. Setelah penulisan nama kedua selesai, nah jika tiga penulis gunakan tanda dan (&) pada nama terakhir begitupula jika penulisnya hanya dua orang saja, setelah penulisan nama selesai,
  • Kedua; tahun pembuatan atau cetakan buku tersebut dengan diawali [tanda kurung buka dan kurung tutup/ (  )] setelah itu beri (tanda titik).
  • Ketiga; judul buku atau karangan setelah itu beri (tanda koma) dan ditulis dengan huruf miring ok.
  • keempat; yaitu penulisan tempat penerbitan/cetakan setelah itu beri (tanda titik dua : )
  • dan terakhir kelima; nama perusahaan penerbit buku atau tulisan tersebut dan diakhiri (tanda titik) ok.  Untuk gelar akademik tidak ditulis dalam penulisan daftar pustaka.

Contoh:

DAFTAR PUSTAKA


Alwi, Hasan. 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
PT Rineka Cipta.

Arkiyah, Nanik. 2007. “Analisis Tata Ruang Sirkulasi Perpustakaan  Unit II 
Universitas Ahmad dahlan Yogyakarta” Skripsi Jurusan Ilmu Perpustakaan 
dan Informasi Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Yogyakarta.

Departemen Pendidikan Nasional, Pusat Bahasa. 2008.  Kamus Bahasa Indonesia. 
Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional RI. 2005.  Pedoman Perpustakaan Perguruan
Tingg, Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Jendral 
Pendidikan Tinggi.

Faulker. Brown, H., 1971. Planning the Academic Library, New Castle Upon Tyne:
Oriel Press

Irhamni. 2003. “Persepsi Pemakai dan Pengaruh Desain Interior Terhadap Aktivitas
Pemakai di Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia” 
Skripsi Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya 
Universitas Indonesia.

Ishar, H.K. 1992. Pedoman Umum Merancang Bangunan, Jakarta: Gramedia

Sumber: 

Abstrak Pada Penulisan Ilmiah


Pendahuluan

Abstrak berisi tidak lebih dari 250 kata dan merupakan intisari seluruh tulisan yang meliputi: latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan. Di bawah abstrak disertakan 3-5 kata kunci (key words. Abstrak ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.

Anatomi Abstrak

Karena abstrak adalah bentuk mini dari artikel atau tulisan utama, abstrak memiliki anatomi yang mirip dengan tulisan utama. Abstrak mengandung hal-hal penting dari tulisan utama.

Sebuah abstrak yang baik memiliki anotomi seperti di bawah ini:

  • Pembukaan - Bagian ini mengawali sebuah abstrak dan biasanya terdiri dari satu atau paling banyak dua kalimat. Bagian pembukaan ini menjawab pertanyaan:  mengapa itu penting? Bisa juga bagian ini tidak ada, dan abstrak langsung dimulai dengan tujuan penelitian.
  • Masalah dan tujuan - Bagian ini selalu ada dalam sebuah abstrak, dan biasanya merupakan kalimat pertama atau kedua dari abstrak. Di bagian ini pula sering dicantumkan hipotesis penelitian.
  • Materi dan Metode - Bagian menyusul bagian masalah, tujuan, dan hipotesis penelitian. Bagian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan: bagaimana penelitian dilakukan?, metode apa yang digunakan?, dan analisis apa yang diterapkan?
  • Hasil - Bagian ini mencantumkan hasil penelitian, termasuk signifikansi secara statistik dari hasil penelitian tersebut. Abstrak tidak mengandung pembahasan (diskusi) yang merupakan interpretasi penulis terhadap hasil penelitian. Dengan demikian, hasil penelitian ditampilkan apa adanya.
  • Kesimpulan - Ini adalah bagian terakhir dari sebuah abstrak. Di sini penulis menyampaikan kesimpulan dalam kaitan dengan jawaban pertanyaan penelitian.

Sifat Abstrak

Di bawah ini adalah beberapa sifat yang dimiliki oleh sebuah abstrak yang baik. Hal ini berlaku umum, baik abstrak dari sebuah laporan penelitian (termasuk skripsi, tesis, maupun disertasi), dan abstrak artikel ilmiah yang akan dikirim untuk diterbitkan dalam jurnal ilmiah
  • Umumnya satu paragraf - Abstrak pada umumnya hanya terdiri dari satu paragraf. Paragraf tunggal abstrak harus:
  • Utuh (complete) dan bersifat 'standalone', yaitu bisa berdiri sendiri dari artikel utamanya.
  • Sarat makna (concise) - Abstrak hendaknya menggunakan sedikit kata dan kalimat untuk menjelaskan sesuatu yang padat makna. Abstrak sebaiknya tidak menggunakan kalimat-kalimat yang di-copy paste dari artikel utama, karena kalimat-kalimat yang digunakan dalam artikel biasanya lebih bersifat elaboratif.
  • Jelas (clear) - Informasi yang disampaikan dalam abstrak hendaknya jelas bagi pembaca. Oleh karena itu, abstrak juga harus mempunyai organisasi yang baik sehingga alur informasi yang disampaikan juga bisa ditangkap dengan mudah oleh pembaca.
  • Terangkai baik (cohesive) - Kalimat-kalimat yang menyusun abstrak hendaknya terangkai dengan baik antara satu kalimat dengan kalimat yang lain. Sekali lagi, tujuannya adalah agar abstrak tersebut dapat dibaca dengan mudah oleh pembaca.

Contoh:
ABSTRAKSI 

Perusahaan yang bergerak pada dunia industri maka diperlukan suatu modal yang sangat besar agar perusahaan dapat berproduksi secara terus – menerus. Selain dari adanya penjualan maka pasti ada pembelian maka perusahaan semestinya sudah tentu mempunyai suatu analisis yang dipakai untuk mengefisienkan harta perusahaannya. Dalam analisis ini dapat dilihat seberapa besar sumber dan penggunaan modal kerja sehingga perusahaan dapat mempunyai suatu batas minimal yang diperlukan agar suatu kesalahan dapat tidak terulang lagi dimasa yang akan datang 



Sumber: 

Kutipan

Kutipan adalah pengulangan satu ekspresi sebagai bagian dari yang lain, terutama ketika ekspresi dikutip terkenal atau eksplisit dihubungkan dengan kutipan ke sumber aslinya, dan ditandai oleh (diselingi dengan) tanda kutip.


Cara Mengutip:

1. Kutipan Langsung Pendek
  • Kutipan langsung pendek = kutipan tdk lebih dari 4 baris
  • Kutipan diintegrasikan langsung dalam teks
  • Jarak baris kutipan sama dengan jarak baris teks yang ada (2 atau 1½ spasi)
  • Kutipan diapit dengan tanda kutip (“…”)
Contoh:

Terkait dengan keindahan bahasa sastra Semi (1993: 81) menyatakan bahwa “bagaimanapun juga kemampuan penulis dalam mengeksploitasi kelenturan bahasa akan menimbulkan kekuatan dan keindahan bahasa”.

2. Kutipan Langsung Panjang


  • Kutipan langsung panjang = kutipan 4 baris atau lebih
  • Kutipan dipisahkan dengan badan teks
  • Kutipan berjarak 1 spasi (badan naskah biasanya 2 atau 1½ spasi)
  • Kutipan tidak selalu menggunakan tanda kutip (boleh ada, boleh tidak)
  • Seluruh kutipan diletakan menjorok ke dalam (5 – 7 ketukan)
  • Jika terjadi, kutipan dalam kutipan, gunakan tanda kutip tunggal/jamak.
Contoh: 
Misalnya salah satu terjemahan berikut ini.
“Suatu pikiran yang telah tersebar dengan luas sekali orang banyak menggambarkan buku-buku sebagai benda tak berjiwa, tidak effektif (sic!), serba damai yang pada tempatnya sekali berada dalam kelindungan-kelindungan sejuk dan ketenangan akademis dari universitas-universitas dan tempat …” (Sani, 1959: 7)

3. Kutipan Tidak Langsung
  • Yang dikutip hanya ide pokoknya, bahasa kutipan dengan bahasa sendiri
  • Kutipan diintegrasikan dalam badan naskah/teks
  • Jarak bagian kutipan sama dengan jarak badan teks lainnya
  • Kutipan tidak menggunakan tanda kutip
Contoh:
Bentuk tulisan faktual yang berupa recount (penceritaan kembali) dalam media massa sangat beragam. Hal ini disebabkan sejalannya tujuan penulisan sebuah recount yang mengarah pada bentuk hiburan atau pemberian informasi (Callaghan & Rothery, 1993: 53). Banyak rubrik surat kabar nasional yang menyediakan tempat untuk pembaca untuk terlibat dalam komunikasi nasional yang dijalin dalam bentuk artikel-artikel.

4. Kutipan Sumber Kedua
  • Pengutip harus menyebutkan kedua sumber  yang ada
Contoh:
Tulisan faktual sendiri ternyata meliputi banyak variasi dan model. Callaghan dan Rothery (1993 dalam Kusmiatun, 2007: 4) memberikan penjelasan bahwa genre faktual meliputi beberapa model tulisan, seperti recount (penceritaan kembali), report (pelaporan), penulisan prosedur, dan sebagainya.Kutipan Sumber Kedua

sumber:



Monday, December 31, 2012

Perencanaan Penulisan Karangan Ilmiah



Dalam menyusun sebuah karangan ilmiah terdapat berbagai faktor yang harus diperhatikan sebelum membuat sebuah karangan ilmiah. Berikut ini adalah pembahasan mengenai faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam membuat sebuah karangan ilmiah :

A. Pemilihan Topik
Pemilihan topik yang tepat, akan menunjukan tingkat cakupan dari sebuah penelitian yang akan dibahas. Topik yang diangkat biasanya, akan mempengaruhi minat pembaca apakah karangan ilmiah ini menarik atau tidak untuk dibaca.

B. Pembahasan Topik
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membuat pembahasan topik :
  •      menampilkan informasi latar belakang,
  •      menampilkan ringkasan hasil/temuan penelitian,
  •      memberikan komentar apakah hasil penelitian sesuai dengan hipotesis,
  •      menghubungkan dengan hasil penelitian terdahulu,
  •      menjelaskan hasil yang diperoleh, terutama jika hasil tersebut tidak memuaskan,
  •      membuat generalisasi dari hasil yang diperoleh (implikasi).
  •      memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
C. Pemilihan Judul
Bagi pembaca judul akan dianggap mewakili bobot sebuah hasil penelitian yang akan ditulis, bahkan merupakan gambaran mutu tulisan yang akan ditulis. Secara umum, kriteria judul yang baik adalah:

  • Topik yang diteliti mengandung masalah yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit. Lebih baik kalau topik yang diajukan lebih spesifik, menarik, dan aktual secara akademik dan secara praktis.
  • Belum banyak diteliti orang lain. Kalaupun sudah ada penelitian lain, studi ini mengambil sisi lain, sisi tertentu, yang selama ini tidak memperoleh perhatian.
  • Diungkapkan dalam kalimat yang simpel, tetapi mampu menunjukkan dengan jelas independent variable dan dependent variable-nya.
  • Judul harus dapat menunjukkan problematik yang terkandung di dalam tema yang akan diteliti.
  • Sebaiknya judul dibuat dengan kalimat ganda. Kalimat pertama bersifat umum yang kemudian diikuti dengan ungkapan yang menunjukkan fokus persoalan yang dikaji.

D. Menentukan Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah suatu pernyataan tentang informasi apa saja yang akan dicari dan perlu didalami melalui penelitian tersebut. Pada hakikatnya tujuan penelitian mencakup beberapa atau salah datu hal berikut ini :

  • Menambah struktur pengetahuan.
  • Mengembangkan metode penelitian.
  • Menghasilkan informasi untuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan formulasi kebijakan.
  • Mengevaluasi program.
  • Meramalkan perilaku individu ataupun kelompok.
E. Menentukan Kerangka Karangan (Outline)
Di dalam bahasa Indonesia untuk membuat suatu penulisan ilmiah harus membuat Outline (Kerangka karangan) dimaksudkan agar penulisan ilmiah tersebut terarah dan sesuai dengan yang diharapkan karena kerangka karangan merupakan suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan atau tulisan yang akan ditulis atau dibahas,susunan sistematis dari pikiran-pikiran utama dan pikiran-pikiran penjelas yang akan menjadi pokok tulisan.
Penyusunan outline (kerangka karangan) secara garis besar dapat dilakukan dengan menggunakan pola alamiah dan pola logis. Macam–macam outline ( kerangka karangan ) dapat berdasarkan atas : sifat rinciannya dan berdasar perumusan teksnya.

Syarat outline ( kerangka karangan ) yang baik adalah sebagai berikut :
  • Tesis atau pengungkapan harus jelas.
  • Tiap unit hanya mengandung satu gagasan.
  • Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis, sehingga rangkaian ide jelas.
  • Harus menggunakan simbol yang konsisten.
F. Langkah-langkah Penulisan Karya Ilmiah.
  • Pemilihan Topik/Masalah Untuk Karya Ilmiah : Pemilihan topik untuk karya tulis ilmiah dapat dilakukan dengan cara merumuskan tujuan, menentukan topik dan melakukan penelusuran terhadap topik tersebut. Dengan melakukan ketiga cara tersebut maka akan diperoleh rumusan topik atau permasalahan yang jelas dan spesifik.
  • Mengindentifikasi Pembaca Karya Ilmiah: Sebelum Anda memulai menulis, ada baiknya Anda harus mengidentifikasi siapa kira-kira yang akan membaca tulisan Anda tersebut. Hal ini penting, karena dengan mengetahui latar belakang pengetahuan dan minat pembaca, akan mempermudah Anda di dalam mengorganisasikan materi sajian dan cara penyampaian. Selain itu, fokus pembicaraan pun menjadi semakin jelas dan spesifik.
  • Menentukan Cakupan Isi Materi Karya Ilmiah: Cakupan materi itu sangat ditentukan oleh rumusan tujuan yang jelas dan pengidentifikasi calon pembaca tepat. Jika Anda tidak mengetahui siapa yang akan membaca tulisan Anda, maka otomatis Anda tidak akan bisa menunjukan cakupan materi yang akan dibahas. Akibatnya, akn sulit bagi Anda untuk memilih dan memilih bahan pustaka, data atau informasi yang dibutuhkan pada saat melakukan tahap pengumpulan data atau informasi untuk tulisan.

Sumber: 

Sunday, November 11, 2012

Alinea


1. PENGERTIAN
Alinea adalah kesatuan pikiran yang lebih luas daripada kalimat; berupa penggabungan beberapa kalimat yang mempunyai satu gagasan atau satu tema. Meskipun demikian ada juga alinea yang hanya terdiri dari satu kalimat,
penyebabnya:
           a. kurang dikembangkan oleh penulisnya        
           b. sebagai peralihan antara bagian-bagian karangan
           c. dialog dalam narasi diperlakukan sebagai satu alinea

2. TUJUAN PEMBENTUKAN ALINEA      
a.    memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap satu tema
b.    memisahkan dan menegaskan perhentian secara wajar dan formal

3.  STRUKTUR ALINEA
Alinea terdiri atas kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas atau kalimat pendukung. Kalimat topik merupakan kalimat terpenting yang berisi ide pokok alinea, sedangkan kalimat penjelas atau kalimat pendukung berfungsi menjelaskan atau mendukung ide utama.
a. Ciri kalimat topik:
1) mengandung permasalahan yang potensial untuk diuraikan lebih lanjut
2) merupakan kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri
3) mempunyai arti yang jelas tanpa dihubungkan dengan kalimat lain
4) dapat dibentuk tanpa kata sambung atau kata transisi.
b. Ciri kalimat penjelas:
1)    sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri
2)    arti kalimatnya baru jelas setalah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu alinea
3)    pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung atau kata transisi
4)    isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data lain yang bersifat mendukung kalimat topik.

4. PERSYARATAN ALINEA
 a. Memiliki kesatuan alinea: dalam satu alinea hanya terdapat satu pokok pikiran
 b. Memiliki kepaduan alinea atau koherensi.  
      Koherensi alinea dapat diciptakan melalui susunan  yang logis dan   
      perkaitan antar kalimat, dengan cara repetisi, kata ganti, dan kata  sambung  atau kata transisi
1) repetisi: Banjir adalah aliran air yang deras di sungai. Banjir disebabkan oleh pendangkalan sungai.
2) kata ganti: Ani dan Tini kuliah di UI. Mereka sering berangkat bersama-sama. 
3) kata transisi: Sidang skripsi Ani akan diadakan min ggu depan. Untuk maksud itu, ia sudah mempersiapkan diri.

5. JENIS ALINEA
a.    Menurut fungsinya dalam karangan:
1)    alinea pembuka:   a) menghantar pokok pembicaraan
                                b) tidak boleh terlalu panjang
                                c) menarik minat dan perhatian pembaca
                                d) menyiapkan pikiran pembaca untuk mengetahui seluruh isi karangan
2)    alinea penghubung atau pengembang: mengemukakan inti persoalan
3)    alinea penutup:      a) tidak boleh terlalu panjang
                                 b) berisi simpulan atau cerminan inti uraian


b.    Menurut posisi kalimat topiknya:
1)    alinea deduktif: kalimat topik pada awal alinea

Contoh:
        Samarkand merupakan salah satu kota tertua di dunia. Awalnya, kota itu bernama Maracanda. Pada 329 M, kota itu ditaklikkan Alexander Agung. Dua abad kemudian, Samarkand menjadi bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan Himyar (115 SM-33 M) . Saat itu, kota itu menjadi tempat bertemunya tiga kebudayaan yakni, Barat, Cina , dan Arab. 
                 (Kompas, 2 April 2008, h. 8)

             2) alinea induktif: kalimat topik pada akhir alinea   
                  Contoh:
        Selain kesohor dengan keindahannya, Samarkand pun dikenal sebagai kota yang strategis. Kota legenda itu berada di tengah ‘Bayangan Asia’ yang menghubungkan Jalur Sutra antara Cina dan Barat. Di era kejayaan Islam, Samarkand menjadi pusat studi para ilmuwan. Itulah mengapa, orang-orang Eropa mendaulatnya sebagai ‘Tanah Para Saintis’.   (Ibid.)

             3) alinea deduktif-induktif: kalimat topik pada awal dan akhir alinea.
                 Contoh:
            Keindahan Samarkand yang begitu populer sempat membuat Kaisar Alexander Agung terpikat. Tatkala menginjakkan kakinya untuk  pertama kali di tanah Samarkand, Alexander pun berseru, “Aku telah lama mendengar keindahan kota ini. Namun tak pernah mengira kota ini benar-benar cantik dan megah”.  (Ibid.)

              4) alinea deskriptif dan naratif:  alinea penuh kalimat topik: 
                  Contoh:
                           Samarkand mencapai masa keemasannya di era Islam, ketika Dinasti Timurid (1370-1506 M) berkuasa. Dinasti itu menundukkan Samarkand dari tangan Shah Sultan Muhammad – penguasa dinasti Khawarizmia. Di bawah kepemimpinan Timur Lenk, dua penjelajah terkemuka Marco Poloa dan Ibnu Batutta sudah melihat geliat kemajuan yang dicapai Samarkand. (Ibid.)

        c. Menurut sifat isinya:
1)    alinea persuatif:  jika isi alinea bersifat mempromosikan sesuatu dengan
                  cara  mempengaruhi pembaca
                  Contoh:
                          Meski dari luar terlihat sepi, ternyata di dalam rumah ada aktivitas. Lima orang di dalam rumah itu tengah mengerjakan alih aksara naskah-naskah kuno. Satu orang di depan komputer mengetik naskah yang dibacakan dan dilagukan oleh satu orang di sampingnya. Naskah yang dibaca berhuruf Jawa dan bertembang macapat. Sesuatu yang tidak mudah bagi orang Jawa sekalipun! 
                          (Kompas, 7 November 2007, h. 38)

 2) alinea argumentatif: jika alinea bersifat membahas suatu masalah dengan bukti-bukti 
     Contoh:
                Isi naskah kuno itu mulai dari agama, almanak, babad, bahasa, berita, budaya, gamelan, hukum, keris, primbon, pertanian, dan lain-lain. Untuk pertanian, misalnya, ada naskah tentang menanam kelapa yang berjudul Kawruh Nanem Kalapa Sarta Paidahipun karya Padmasusastra, tahun 1912. Ada juga tentang tata cara menanam padi berikut jenis-jenis padi yang ada. (Ibid. )
                 
 3) alinea naratif: jika isi alinea bersifat menuturkan peristiwa
     Contoh:
                Penyelamatan naskah kuno oleh Yayasan Sastra dilakukan dengan penyelamatan fisik meski dengan cara sederhana, seperti pembersihan dan fumigasi serta perawatan beberapa bagian naskah yang rusak. Penyelamatan dilakukan oleh tenaga kerja sebanyak delapan orang.
               
4) alinea deskripif: jika isi alinea menggambarkan sesuatu
                 Contoh:
                             Masa keemasan kepujanggaan mulai muncul  ketika keraton Surakarta pindah ke Desa Sala yang sekarang menjadi pusat keraton.  Mulai era Paku Buwana VI, kepujanggaan  memasuki masa keemasan. Pada masa itu banyak karya sastra bermunculan, salah satunya yang terkenal dan mendunia adalah Serat Centini. (Ibid.)

5) alinea ekspositoris: jika isi alinea bersifat memaparkan sesuatu
Contoh:
          Dari naskah kuno ini, misalnya, seorang arsitek diharapkan bisa melihat atau menggali informasi arsitektur Jawa. Seorang dokter juga bisa menggali pengetahuan medis lokal. Seorang ahli pertanian bisa menggali budidaya berbagai tanaman dan juga pemanfaatannya. (Ibid.)           


6. PENGEMBANGAN ALINEA
     Pengembangan alinea mencakup dua persoalan utama, yaitu:
     Pertama, kemampuan merinci  secara maksimal gagasan utama aline ke dalam   
           gagasan-gagasan bawahan.
     Kedua, kemampuan mengurutkan gagasan-gagasan bawahan ke dalam suatu
          urutan yang teratur.
         
 Gagasan utama biasanya didukung oleh kalimat topik. Posisi kalimat topik dapat pada awal alinea, pada akhir alinea, pada awal dan akhir alinea, atau pun  pada seluruh kalimat pada alinea tersebut.    
           Untuk mengembangkan sebuah alinea, baik untuk merinci gagasan utama, mau pun untuk mengurutkan rincian-rincain itu dengan teratur, dikembangkanlah bermaca-macam metode. Metode pengembangan mana yang dipakai tergantung dari sifat alinea itu.
             Dasar pengembangan alinea dapat terjadi karena adanya hubungan alamiah, yaitu berdasarkan ruang, waktu, dan urutan topik yang ada, maupun berdasarkan hubungan logis.  Metode pengembangan alinea yang berdasar hubungan logis antara lain  dengan metode definisi, metode proses, metode contoh, metode sebab-akibat, metode umum-khusus, klimaks-antiklimaks, dan metode klasifikasi.

  1. Metode Definisi
Contoh:
          Istilah demokrasi  dalam bahasa Indonesai berasal dari dua kata dasar bahasa Latin yaitu demos yang berarti rakyat dan  kratos yang berarti kekuasaan. Jadi, demokrasi berarti kekuasaan oleh rakyat.   

  1. Metode  Proses
Contoh:
         Proses pembuatan gedung Departemen Pertanian adalah sebagai berikut: mula-mula pemerintah menyiapkan lahan untuk gedung tersebut, lalu membuat fondasi, kemudian mulai membuat lantai dasar. Setelah lantai dasar selesai lalu diteruskan dengan membangun lantai dua,  dan kemudian  lantai-lantai  yang lebih atas. Setelah selesai semua lalu diadakan pengecatan seluruh gedungnya.  

 c. Metode Contoh
Contoh      
       Sebagai ungkapan  kebahagiaan dan silaturahim, masyarakat Lampung Barat mewujudkannya dalam  pesta sekura, suatu tradisi budaya khas Lampung, dalam bentuk tarian. Tarian sekura memakai topeng sekura untuk mengekspresikan kebahagiaan atas kemenangan menjalankan ibadah puasa satu bulan lamanya. Itu sebabnya topeng sekura menggambarkan wajah-wajah ceria dan bahagia. Dalam menarikan tarian sekura, para penari diiringai musik dari alat musik kolintang Lampung dan cetik atau gitar klasik Lampung. Irama musiknya rancak dan gembira untuk mengekspresikan kebahagiaan.  (Kompas, 7 Novemeber 2007, h. 40, dengan sedikit perubahan)

      d.. Metode Sebab-Akibat
Contoh
        Hujan turun berhari-hari menyebabkan Jakarta banjir.  Meskipun hujan hanya sebentar saja, itu  sudah dapat menyebabkan Jalan Thamrin tergenang air. Penyebab banjir itu antara lain tidak berfungsinya gorong-gorong sepanjang Jalan Thamrin, karena saluran di gorong-gorong itu dipenuhi sampah. Masyarakat belum tertib ketika membuang sampah. Seharusnya sampah tidak dibuang di sembarang tempat. Bila masyarakat tertib dalam hal membuang sampah, akan turut mengurangi banjir yang melanda Jakarta.

  1. Metode Umum Khusus
Contoh
         Ilmu pengetahuan sekarang berkembang dengan pesatnya. Dengan kemajuan teknologi telah dihasillkan berbagai  peralatan canggih yang dapat mempermudah kehidupan manusia. Semua lapisan masyarakat mendapat keuntungan dari kemajuan hasil teknologi canggih itu, generasi tua, generasi muda, lebih khusus lagi para mahasiswa.
  
  1. Metode klimaks-antiklimaks
Contoh
         Kini Turki sedang gelisah. Itulah sikap Turki yang tampaknya sudah ditangkap oleh pimpinan Irak maupun Kurdi Irak. Menteri Luar Negeri Irak yang berasal dari Kurdi Irak, Hosyar Zebari, berkomentar di  harian Asharg al Aswat, Hosyar menuduh gelagat Turki saat ini tidak hanya sebatas perlawanan PKK (Partai Pekerja Kurdi). Lebih jauh dari masalah itu, Turki berusaha mencegah berdirinya negara Kurdi di Irak. Dalam konteks itu, sangat bisa dipahami mengapa Irak dan Suriah bergegas mendukung sikap Turki saat ini. Alhasil, bangsa Kurdi sepanjang sejarahnya memang terus menjadi korban geopolitik dan pertarungan  kepentingan-kepentingan kekuatan regioanal serta internasioanal yang berlanjut hingga saat ini. Namun, kini, sejarah mulai berpihak dan tak tertutup kemungkinan berdirinya negara Kurdi. (Kompas, 7 November 2008, h. 33, dengan sedikit perubahan)

  1. Metode Klasifikasi
Contoh
    Sejak tahun 1919, oleh tiga orang bersaudara sepupu di Jawa Timur telah dilakukan upaya memunculkan gagasan negara sekuler. Ketika itu, tiga orang bersaudara sepupu itu telah melakukan dialog antar ajaran kesantrian dan semaangat kebangsaan dan nasioanlisme itu. HOS Tjokroaminoto dan dua saudara sepupunya, yaitu KH M. Hasyim As’yari dan KH  A. Wahab Chasbullah, melaksanakan dialog itu disertai Soekarno, belakang hari disebut Bung Karno. Sukarno adalah menantu HOS Tjokroaminoto, yang menjadi tokoh nasionalis di antara mereka berempat. Pada tahun 1926, lahirlah Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah untuk melakukan dialog tersebut. Tetapi, perlu diberikan kejelasan mengenai istilah santri yang digunakan dalam artikel ini, yaitu mereka yang mempercayai dan mengamalkan hukum Islam (fiqh) yang dibedakan dari kaum abangan (mungkin dari kata ‘aba-an’ yang berarti menolak pelaksanaan syariah secara penuh), walaupun mereka percaya pada kebenaran Islam, yang diwakili juga oleh kata kejawen (agama orang Jawa). Sebenarnya, secara memudahkan orang-orang kejawen dapat dianggap pengikut sebuah aliran tasawuf, yaitu bersamaan ajarannya dengan Wihdat Al-Wujud / Al Syuhud dari Ibn Al-‘Araby. Dalam bahasa Jawa, dinamai Manunggaling Kawulo lan  Gusti.
 (Kolom Gus Dur, Seputar Indonesia, 4 April 2008, h. 2).  

sumber: pksm.mercubuana.ac.id/new/.../files.../99009-8-555911592468.doc